Sistem Leveling / Tadarruj
Pendidikan terbaik adalah pendidikan ala Salaf. Keberhasilan sistem mereka telah teruji dengan lahirnya generasi yang hebat dan kuat, baik dalam ilmu agama maupun ilmu dunia. Bahkan dalam waktu singkat mereka mampu menguasai dunia.
Salah satu sistem pendidikan Salaf yang terbukti keberhasilannya adalah Sistem Tadarruj, yaitu sistem yang berjenjang dan bertingkat. Sayangnya, sistem ini mulai memudar di zaman sekarang.
Tujuan utama dari sistem berjenjang dan bertahap adalah untuk mengokohkan ilmu di dalam hati anak. Karena hati anak ibarat sebuah wadah, dan ilmu ibarat air. Sebagaimana wadah diisi air sedikit demi sedikit, demikian pula ilmu harus dimasukkan ke dalam hati anak secara bertahap.
Tingkatan Leveling (Marahil Tolabulilmi)
Struktur Jenjang Kompetensi As-Sullam Academy
Mubtadi
Mampu menyebutkan dan menjelaskan kembali apa yang telah dipelajari dengan tepat
Mutawasit
Mampu menjawab pertanyaan "mengapa demikian", bukan sekadar "apa aturannya".
Mutaqoddim
Mampu menjelaskan beberapa pandangan yang berbeda beserta alasan masing-masing.
Mahir
Menghasilkan karya orisinal yang dapat dipertanggungjawabkan
Al-Qur'an sendiri diturunkan secara bertahap. Tujuannya adalah agar ia kokoh tertanam di dalam hati Nabi Muhammad ﷺ. Allah ﷻ berfirman:
"Dan orang-orang kafir berkata: \"Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?\" Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar)." [QS. Al-Furqan: 32]
Pandangan Imam Ibnu Khaldun
“Ketahuilah bahwa penyampaian ilmu kepada para peserta didik hanya akan bermanfaat jika dilakukan secara bertahap, sedikit demi sedikit."
Adapun tahapan tersebut dijabarkan beliau sebagai berikut:
- Tingkat Pertama: Disampaikan kepadanya beberapa pokok masalah dari setiap bab dalam sebuah bidang ilmu, yaitu pokok-pokok dasar dari bab tersebut. Kemudian dijelaskan secara ringkas dan global, dengan memperhatikan kemampuan peserta didik itu. Maka tidak disampaikan kepadanya kecuali sekadar yang ia mampu tanggung. Dan tidak ditambah lagi sampai ia benar-benar menguasai apa yang telah disampaikan.
- Tingkat Kedua: Apabila ia telah menguasai pokok-pokok dasar bidang ilmu itu secara keseluruhan, maka berpindahlah ia ke kitab/tulisan berikutnya yang lebih jelas daripada sebelumnya. Naikkanlah ia dalam penyampaian ke tingkatan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Sempurnakanlah penjelasan dan perinciannya. Keluarkan ia dari tahap global. Sebutkan kepadanya khilaf/perbedaan pendapat beserta alasannya. Terus begitu hingga selesai seluruh bidang ilmu itu. Maka akan menjadi kuatlah penguasaannya terhadap ilmu itu.
- Tingkat Ketiga: Kembalikan lagi ia ke ilmu itu setelah ia telah kuat. Maka jangan tinggalkan satu pun masalah yang sulit, penting, atau rumit kecuali dijelaskan dan dibukakan kunci pemahamannya. Sehingga ia keluar dari bidang ilmu itu dalam keadaan telah menguasai dan memiliki malakah/kemahiran dalam ilmu tersebut.
Pandangan Imam Ibnu Abdil Bar
"Menuntut ilmu itu memiliki tingkatan, tahapan, dan kedudukan. Tidak sepantasnya melampauinya. Barangsiapa melampauinya secara keseluruhan, maka sungguh ia telah melampaui jalan para Salaf rahimahumullah. Barangsiapa sengaja melampaui jalan mereka, maka ia telah sesat. Dan barangsiapa melampauinya karena bersungguh-sungguh, maka ia akan tergelincir."
(Jami’ al Ulum Wal Hikam : 428-439)Implementasi Leveling dalam Kitab Para Ulama
Gaya para ulama dalam menulis kitab-kitab pun juga menerapkan sistem Leveling pada tingkatan kemampuan santri masing-masing. Salah satu contoh paling mashur digambarkan oleh Abdul Qodir bin Badron mengenai karya Imam Ibnu Qudamah:
"Sesungguhnya Muwaffaquddin Ibnu Qudamah (w. 620 H) dalam karangannya memperhatikan 4 tingkatan:"
Kitab "Al-'Umdah"
Disusun khusus untuk para pemula guna meletakkan pondasi dasar pemahaman fiqih.
Kitab "Al-Muqni'"
Untuk mereka yang sudah naik kelas namun belum sampai tingkat pertengahan. Sengaja dibuat kosong dari dalil dan ta'lil, tetapi menyajikan riwayat Imam Ahmad untuk melatih ketajaman berpikir dan tarjih.
Kitab "Al-Kafi"
Disertai penyebutan dalil yang melimpah untuk menaikkan kapasitas pembaca agar terdorong berdiskusi dan naik ke tingkat ijtihad madzhab.
Kitab "Al-Mughni"
Karya monumental bagi penuntut ilmu tingkat tinggi. Memaparkan riwayat, silang pendapat para imam madzhab, beserta adu dalil (pro-kontra) untuk melatih ijtihad mutlak bagi yang berkelayakan.